DIA

DIA

Dwi Juliana Nastiti

Aku termenung diam tanpa kata. Menatap kosong langit hampa. Entah mengapa hari ini aku teringat kembali dengan ayahku. Aku merindukan canda tawanya. Aku merindukan pelukan hangatnya. Dan aku merindukan senyuman indah dari bibirnya. Ingin rasanya aku menjerit, agar semua orag tahu apa yang aku rasakan.

Tiba-tiba….

“Hey!” seorang pria bertubuh tegap menepuk bahuku.
“Hmm..” Jawab ku acuh tak acuh ketika menyadari bahwa pria itu adalah Rio.
“Kenapa melamun?” Tanya Rio.
“Pasti lagi mikirin aku.” Ujar Rio sambil menjulurkan lidahnya.
“GR!” Sahutku sinis.
“Terus kenapa?” Lagi-lagi Rio melontarkan pertanyaan yang sama. Namun aku hanya diam tak menghiraukan ucapannya.
“Ines, ada apa?!” Kali ini Rio berteriak di telingaku.
“Nggak ada apa-apa kok.” Jawabku dengan suara sedikit parau.

Rio adalah teman baikku. Meski aku tahu, perhatian yang ia berikan kepadaku tak sekedar rasa simpati kepada sahabat. Dan meski aku tahu, ia menginginkan hubungan kami lebih dari teman.

“Oke, kalo kamu nggak mau cerita. Tapi inget, Allah nggak bakal ngasih cobaan yang nggak bisa di lalaui oleh umat-Nya. Jadi kamu nggak usah terlalu mikirin itu.” Ujar Rio.

Tanpa aku sadari butiran-butiran kristal itu jatuh menghujani pipiku. Yaaah, aku memng tak pernah bisa membohongi perasaanku sendiri.

“Sebut aja nama aku tiga kali, pasti kamu bisa lebih tenang.” Rio menggodaku.
“Rio, Rio, Rio !” Teriakku. Lalu serentak kami tertawa.

Entah mengapa Rio selalu berhasil membuat aku tersenyum. Sudah 9 tahun aku tak pernah bertemu dengan ayahku. Selama ini aku hanya tinggal bersama ibu dan kakak. Mereka adalah semangat hidupku. Ibu rela membanting tulang demi menyekolahkan aku dan kakak. Beliau juga menjadi sosok ayah bagi kami. Ia benar-benar tegar dan kuat dalam mengahadapi kerasnya hidup ini, sedikit pun tak pernah ibu mengeluh. Dan sudah 3 tahun ini aku mengenal Rio, sejak saat itu kebahagiaan semakin melengkapi hari-hariku.

“Teng..teng..teng” Bel itu menggiring anak-anak masuk ke dalam kelas.

“Nes, aku masuk ke kelas ya.” Ujar Rio.
“Oh ya, pulang sekolah nanti tunggu aku ya?” kataku sambil tersenyum.
“Oke!” Ujar Rio sedikit berteriak, lalu menghilang di balik pintu.

Usai pelajaran, aku segera berlari keluar kelas dan Rio sudah berdiri sambil menyandang tas hitamnya di depan pintu sekolah. Aku berlari-lari kecil melewati lapangan untuk mencapai tempat diamana Rio menungguku.

“Lama banget sih, Nes!”  Keluh Rio.
“Maaf, maaf.” Ujarku.

“Aku beli minum dulu ya. Kamu mau?” Tawar Rio.

“Iya, beli dimana?” Kataku.

“Di seberang jalan sana. Mau ikut?”

“Hmm.. Nggak ah. Oh ya, aku ambil uangnya dulu ya.” Saat aku tengah asyik menggeleda tas untuk mencari dompet hijau kesayanganku. Terdengar suara seseorang berteriak. Lalu ku alihkan pandanganku dari dalam tas ke setiap sudut jalan, aku mendapati seorang pria terbaring lemas di tengah kerumunan orang-orang. Lalu aku menjerit histeris ketika aku menyadari bahwa ia adalah Rio.

Rio pun segera dibawa ke rumah sakit terdekat, ternyata ia mengalami patang tulang di bagian kaki kanannya akibat ditabrak oleh pengendara motor yang keberadaannya entah dimana. Tak beberapa lama kemudian, ibu Rio pun datang ke rumah sakit. Ketika bertemu dengan dokter, ibu Rio diminta untuk segera mengurus biaya administrasi. Namun, ibu Rio tidak mampu membayar biaya rumah sakit dengan gaji seorang buruh cuci harian. Akhirnya pihak rumah sakit meminta ibu Rio untuk membawa anaknya pulang.

Ibu Rio pun terpaksa membawa anaknya pulang. Sebenarnya aku ingin sekali membantu, tapi keadaan ekonomi keluargaku pun sedang terjepit. Aku hanya bisa memberi semangat kepada sahabatku.

Semenjak kejadian itu, Rio tidak pernah masuk sekolah, ia menghilang bagaikan ditelan bumi. Ia pergi tanpa meninggalkan satu pesan pun, rumahnya sepi tak berpenghuni.

5 tahun kemudian…

Aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Yogyakarta. Tepat pada tanggal 8 juli, di hari ulang tahunku. Universitas Negeri Yogyakarta dan UGM mengadakan sparing volley ball. Dan aku adalah salah satu pemain dari UNY. Biasanya, Rio selalu menemaniku ketika bertanding, ia duduk manis di bangku penonton. Sayangnya, aku jatuh cinta disaat ia telah pergi. Tapi aku tak pernah merasa kehilangan, karena aku masih punya pengganti Rio, yaitu Beno! Boneka beruang putih kecil pemberian Rio.

Setibanya disana, kami melakukan pemanasan sejenak. Lalu aku duduk di pinggir lapangan sambil mengikat tali sepatuku.

Tak beberapa lama kemudian wasit meniup peluitnya sebagai tanda bahwa petandingan akan segera di mulai. Pertandingan berjalan dengan lancar dan sportif. Sampai pada akhirnya, UGM tim lah yang memenangkan pertandingan. Meskipun kami kalah, tapi kami telah membangun kerja sama dengan baik.
Usai pertandingan, seseorang mengulurkan minuman kaleng kepadaku. Ku tatap wajah laki-laki itu lekat-lekat.

“Rio!” aku melompat girang, ketika mengetahui ia adalah Rio, sahabatku.
Kami pun meluangkan waktu bersama di kantin kampus, aku mendengarkan cerita Rio yang tiba-tiba menghilang dan untuk sedikit bernostalgia. Ini adalah kado terindah seumur hidupku.
*END*🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s