Musim Semi kepada Pohon Ceri

Lihat!
Awan-awan kecil melintas
menghiasi langit pukul empat.
Semilir angin memainkannya
diiring ke puncak bukit.

Saat-saat lima burung camar bermain
kicau merdunya menghibur, burung pelatuk
bertengger sendiri di rumahnya.

Di tengah jalan basah,
beningnya air tercurahkan dari langit malam.
Enam jarimu tersentuh olehnya,
hati kecilmu berbisik:
“Mereka indah?”


Hei! Dengarkan!
Camar bersenandung bahagia;
nampaknya memang begitu
rantingnya bergoyang riang,
dikelilingi tujuh peri hutan,
disisir musim kemarau yang beranjak pergi.

Bulan ke delapan, musim kemarau berlalu
katak kecil menari-nari
ibunya hanya tersenyum,
kau ikut tersenyum pula.

Saat-saat bintang bersinar terang,
lukisan langit malam semakin indah,
sembilan ikan berenang dengan tenang di kolam.
“Kau menyaksikannya?”

Perhatikan lagi!
Di tepi kolam ada yang menyudut;
memandangi bulan sejak tadi.
Rupa-rupanya dia pohon ceri,
“Apa yang ia lakukan?” gumam
burung pelatuk di ketinggian sana.
Sepuluh helai daunnya terjatuh;
musim semi hampir berlalu.

“Aku akan merindukanmu musim semi!” Ujar
pohon ceri syahdu;
buliran bening pun tergenang di sudut matamu

by: Arsyifa Deiliana (SA Bogor)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s